| Portrait of René Descartes, dubbed the "Father of Modern Philosophy", after Frans Hals c. 1648 (Photo credit: Wikipedia) |
Karena alasan inilah maka disini saya tidak akan membahas dan menelaah kata-kata tersebut. Om Rene ini memang memberikan inspirasi bagi saya untuk terus menulis. Lho, apa hubungannya ya? Ya, karena kata-kata dia itu saya sering berpikir dari hal sederhana yakni sesederhana deretan kata-kata lontaran Om Rene. Oleh karenanya, ketika saya memikirkan kata-katanya itu lha kok ternyata si pikiran ini mengajak temannya untuk turut serta menyukseskan perihal pikir berpikir ini. Temannya itu sebuah kata kerja yang dulu pernah dilakukan namun terbengkalai dan cenderung ditinggalkan lantaran aktifitas dan kegiatan kerjaan yang kerap kali dijadikan alasan. Namun lantaran masih terngiang bisikan Om Rene itu, guratan-guratan lobus frontalis ini tidak bisa berhenti berdenyut melontarkan gelombang-gelombang melalui sinaps yang dari jaman kuliah Faal bagian ini nyaris tidak mau menghapal lantaran banyak banget yang harus dihapal. Ah tapi itu tidak penting, yang penting sekarang karena sederetan kata Om Rene ini menghanyutkan alam jasmani untuk mengikuti alam pikiran yang selalu mengatakan "kapan kamu menulis lagi, kalau kamu kebanyakan berpikir dan cenderung banyak dipikirkan bisa-bisa kamu lupa dengan semua yang kamu pikirkan, lebih baik kamu tuliskan saja".
Rupa-rupanya si Cogito ini selalu menarik temannya di alam pikiran saya, temannya ini si Scribo memang hari ini berhasil mendorong saya untuk kembali menulis rangkaian kata-kata ini. Kalau om Rene terkenal dengan filosofis "Cogito Ergo Sum" di dalam hidupnya, lantas saya mulai terenyuh kalau-kalau "Scribo Ergo Sum" ini mulai bermekaran di alam bawah sadar yang paling dalam. Rasanya eksistensi diri semakin tebal dengan kata-kata "Saya menulis maka saya ada".
"Tetaplah berusaha mengikuti gejolak alam pikiran, teruslah tuliskan apa yang dipikirkan, dan dengan tulisan itu bisa diambil langkah evaluasi dan koreksi yang diperlukan"