Masih terbersit peristiwa tadi malam saat menghadiri Misa Malam Paskah di sebuah Gereja di Bogor. Saya dan keluarga datang dengan maksud mengikuti perayaan dengan tenang, hikmat, dan khusuk. Awalnya sebelum perayaan dimulai, banyak anak-anak kecil berceloteh di sekitar tempat kami duduk. Saya menoleh mencoba melihat apakah ada orangtuanya di sekitarnya. Ternyata ada. Tenang sudah hati saya, dengan asumsi pasting nanti anak tersebut ditenangkan oleh orangtuanya. Jadi saya mencoba memaklumi situasi tersebut.
Pengumuman tanda perayaan akan segera dimulai sudah terdengar. Suasana gelap menjadi ritual pembuka pun semakin terasa. Kalimat pembuka sudah dikumandangkan, terdengar sang pemimpin perayaan mengajak setiap umat untuk mengikuti kalimat demi kalimat, dan doa demi doa. Konsentrasi saya masih pecah dengan celotehan anak kecil yang ada tidak jauh dari tempat kami duduk. Saya pikir mungkin sebentar lagi anak itu bisa terdiam.
Umur 2 atau 3 tahun mungkin. Celotehan dan becandaan anak itu akrab dengan sang ayah. Entah kenapa si ayah terlihat menanggapi dan menimpali pertanyaan polos sang anak. Menurut hemat saya, semua orangtua akan merepons positif interaksi yang terjadi dengan buah hatinya. Alhasil, sepanjang perayaan anak tersebut bertambah intens pola interaksinya dengan sang ayah. Bukan hanya sekedar menjawab beberapa pertanyaan Kecil dan sederhana, tapi terjadi juga becandaan yang menyebabkan si anak melepaskan tawanya. Kecil, polos, agak melengking, dan seperti menanggapi respons positif dari sang ayah.
Senang melihat interaksi tersebut, tapi kok ya saya merasa ada yang salah dengan situasi ini. Dalam tataran perkembangan anak, penanaman nilai benar dan salah, serta menerapkan sedikit boleh atau tidak sudah bisa dilakukan oleh orangtua sebagai figur terdekatnya. Dalam situasi yang saya alami tadi, peran orangtua untuk mengarahkan anaknya until lebih tenang, kurang dilakukan. Saya mulai berpikir, ada keengganan dari sang orangtua untuk menyadarkan anaknya. Celakanya, entah itu suami atau istri dari pasangan orangtua itu cenderung cuek anaknya bawel. Saya rasa anak itu tidak salah. Lha wong umur segitu lagi doyan-doyannya ngomong. Baru juga lidah dan mulut bisa ngoceh ngalor ngidul bertanya macam-macam, dengan segudang pertanyaan dasar yang diucapkan intonasi khas anak balita.
Pertanyaan menggelitik di kepala, sebenarnya orangtuanya salah atau tidak? Menurut saya kurang tepat karena orangtua tersebut mengiyakan anaknya bawel sehingga mengakibatkan orang lain termasuk saya merasa terganggu. Apa tanggapan anda bila anda menghadapi situasi ini?
anton | notna
Sabtu, 19 April 2014
Kamis, 17 April 2014
Dilema Waktu
Hari masih sore, 20 menit saja baru lewat dari pukul lima sore. Riuh rendah obrolan para penghuni kantor yang akan beranjak pulang membuat hangat suasana dingin akibat cuaca yang sedang hujan ditambah lagi pendingin udara di dalam ruangan. Raut wajah bersemangat hendak cepat-cepat pulang terlihat sekali. Dimanapun ada libur dalam hari kerja pasti disambut sumringah. Apalagi sekarang akan menambah panjang liburan akhir pekan, sehingga terlihat sebelum pukul lima pun sudah beres-beres. Begitu pukul lima teng, semua sudah beranjak dari tempat duduk masing-masing; ada yang langsung pulang, banyak yang masih bercengkrama sekedar basa-basi sambil turun menuju parkiran.
Sepertinya tinggal saya dan seorang petugas kebersihan yang masih sibuk sekarang. Saya pura-pura sibuk dengan komputer jinjing saya, dan bapak diluar sana sibuk dengan puluhan gelas yang sedang dicucinya. Tampaknya semua sudah berhamburan ingin segera tiba di rumah masing-masing, atau punya agenda jalan-jalan lainnya. Banyak yang memaknai hari ini hingga hari minggu besok sebagai kesempatan untuk rehat sejenak dari kesibukan sehari-hari. Sebagian teman-teman yang beragama Nasrani pastinya tidak sependapat dengan hal ini. Gimana bisa rehat sejenak, setiap hari akan ada ibadah di Gereja. Rangkaian Pekan Suci yang dimulai dari hari Minggu Palma kemarin, akan memasuki puncaknya pada hari Minggu Paskah. Sebelum sampai Minggu Paskah, ada 3 hari penting yang menjadi misteri iman; yakni : Kamis Putih, Jum'at Agung, dan Sabtu Tirakatan Kebangkitan Tuhan. Tiga hari tersebut menjadi perayaan penting dalam tradisi dan perayaan keimanan, sehingga bagi pemeluk Nasrani menjadikan hari-hari tersebut sebagai suatu kesempatan untuk berlibur rasanya kurang bijak.
Terlepas dari bagimana saya, anda, dan kita menyikapi tiga hari ke depan, esensinya lebih kearah apa yang bisa saya lakukan saat ini. Memanfaatkan waktu secara berkualitas menjadi dilema bagi orang-orang penduduk kota Jakarta. Berapa banyak waktu yang digunakan secara berkualitas dengan orang-orang yang terdekat di rumah? Perjalanan pergi pulang ke tempat kerja sepertinya lebih panjang dibandingkan waktu yang digunakan untuk bersama-sama dengan keluarga. Langkanya waktu kosong ini membuat saya melihat orang-orang begitu terobsesi dengan yang namanya hari libur. Begitu ada kalender untuk tahun berikutnya, selalu yang dicari adalah tanggal-tanggal merah yang artinya bolong alias libur alias kosong dari aktifitas dan rutinitas kerjaan. Celakanya, sudah melihat dan membuat rencana panjang kali lebar kali tinggi untuk mengisi liburan tersebut, ternyata esensi dari memanfaat waktu secara berkualitas pada hari libur tersebut sering kali malah terabaikan.
Apa yang akan anda lakukan dalam tiga hari kedepan? Sudahkah anda menyediakan waktu yang berkualitas dengan keluarga anda? Sudahkah anda menyediakan waktu yang berkualitas untuk membangun relasi dengan Sang Pencipta?
Sepertinya tinggal saya dan seorang petugas kebersihan yang masih sibuk sekarang. Saya pura-pura sibuk dengan komputer jinjing saya, dan bapak diluar sana sibuk dengan puluhan gelas yang sedang dicucinya. Tampaknya semua sudah berhamburan ingin segera tiba di rumah masing-masing, atau punya agenda jalan-jalan lainnya. Banyak yang memaknai hari ini hingga hari minggu besok sebagai kesempatan untuk rehat sejenak dari kesibukan sehari-hari. Sebagian teman-teman yang beragama Nasrani pastinya tidak sependapat dengan hal ini. Gimana bisa rehat sejenak, setiap hari akan ada ibadah di Gereja. Rangkaian Pekan Suci yang dimulai dari hari Minggu Palma kemarin, akan memasuki puncaknya pada hari Minggu Paskah. Sebelum sampai Minggu Paskah, ada 3 hari penting yang menjadi misteri iman; yakni : Kamis Putih, Jum'at Agung, dan Sabtu Tirakatan Kebangkitan Tuhan. Tiga hari tersebut menjadi perayaan penting dalam tradisi dan perayaan keimanan, sehingga bagi pemeluk Nasrani menjadikan hari-hari tersebut sebagai suatu kesempatan untuk berlibur rasanya kurang bijak.
Terlepas dari bagimana saya, anda, dan kita menyikapi tiga hari ke depan, esensinya lebih kearah apa yang bisa saya lakukan saat ini. Memanfaatkan waktu secara berkualitas menjadi dilema bagi orang-orang penduduk kota Jakarta. Berapa banyak waktu yang digunakan secara berkualitas dengan orang-orang yang terdekat di rumah? Perjalanan pergi pulang ke tempat kerja sepertinya lebih panjang dibandingkan waktu yang digunakan untuk bersama-sama dengan keluarga. Langkanya waktu kosong ini membuat saya melihat orang-orang begitu terobsesi dengan yang namanya hari libur. Begitu ada kalender untuk tahun berikutnya, selalu yang dicari adalah tanggal-tanggal merah yang artinya bolong alias libur alias kosong dari aktifitas dan rutinitas kerjaan. Celakanya, sudah melihat dan membuat rencana panjang kali lebar kali tinggi untuk mengisi liburan tersebut, ternyata esensi dari memanfaat waktu secara berkualitas pada hari libur tersebut sering kali malah terabaikan.
Apa yang akan anda lakukan dalam tiga hari kedepan? Sudahkah anda menyediakan waktu yang berkualitas dengan keluarga anda? Sudahkah anda menyediakan waktu yang berkualitas untuk membangun relasi dengan Sang Pencipta?
Senin, 14 April 2014
(masih) mamalia
Setelah hampir 2 tahun tidak pernah menengok barang sebentar pun ke blog ini, akhirnya malam ini entah mengapa ada dorongan untuk kembali bernostalgia. Sekedar untuk membaca 3 hasil iseng yang biasanya memang terjadi begitu saja, celakanya malam ini akan terjadi buah keisengan yang lainnya. Tidak pernah konsisten memang untuk selalu menuangkan sederetan peristiwa yang terjadi sehari-hari, dan kok ya malam ini baru "jreng" dan langsung merangkaikan kata-kata ini.
Lebih sering kusut berpikir ini itu tidak jelas juntrungannya, buntut-buntutnya bete sendiri karena memang tidak ada hasil akhir dari aktifitas itu. Mau ketak ketik panjang lebar, males. Enakan bengong, manyun, sambil dahi berkerut-kerut mikirin semua realitas hidup. Realitas hidup yang dekat saja dahulu, ya... tidak jauh-jauh dari kehidupan pribadi. Daripada mikirin carut marut keadaan negara, mikirin konsep kepemimpinan masa depan, apalagi sampai mikirin gimana nanti peta politik bangsa ini.
Kusut bin ruwet. Nah tapi itu ya, coba ada orang yang hidupnya enak nyaman tentram sejahtera senang selalu sampai bingung kenapa ga punya masalah. Apakah mungkin? Rasanya semua orang punya masalah dan kesusahannya masing-masing. Tapi celakanya, orang sangat senang membentuk persepsi yang positif kepada orang lain. Dan celakanya pula, orang lain hanya menangkap hal-hal yang menyenangkan saja dari kondisi orang lain tersebut. Kadang suka rancu kalau ada orang yang terlihat bahagia, selalu senang hidupnya, dikelilingi kemasyuran pula; apa iya semuanya seindah kelihatannya? Semoga memang demikian adanya, tapi ada bagian lain yang saya dan orang lain yang tidak tahu apa yang menjadi kesulitan dan masalah orang serba oke itu.
Sudah menjadi dorongan dasar manusia yang terprogram dalam otak mamalia bawaan orog, pasti ingin menghindari ketidak-nyamanan, kesulitan, kesengsaraan; dan sebaliknya ingin meningkatkan kenikmatan, kesenangan, kenyamanan, dan panjang kali lebar kali dalam semua yang namanya kemudahan. Mudah mencari jodoh, mudah mengumpulkan uang, mudah melakukan yang disenangi, nyaman bepergian dari satu tempat ke tempat lain tanpa susah-susah kepanasan atau kehujanan, dan semua yang memanjakan dirinya. Coba kalau dipikir, pasti anda pun demikian kan? Apa iya anda mau menjalani hidup yang susah? Susah mencari jodoh, susah mengumpulkan uang, susah melakukan hal-hal yang disenangi, mau bepergian repot kudu cape pegel jalan kaki sampai kaki anda kapalan, dan membuat hidup anda ruwet? Pastinya sudah dipastikan anda maunya dari enak semakin enak lagi, dari nyaman semakin nyaman lagi.
Secara logis, dorongan otak mamalia yang ada di alam pikiran manusia tersebut tidak dapat terelakan lagi. Menutup malam ini, ingin sekedar berpikir sendiri, dan mengajak juga anda melayangkan pikiran anda pada sederetan kisah dan kenangan anda, bagaimana metamorfosis kehidupan anda? Semoga dengan mengajak membuka kenangan masa lalu ini membuat kita senantiasa selalu berterima kasih dan bersyukur. Sudahkah anda bersyukur atas apa yang anda miliki dan ada pada diri anda saat ini?
Lebih sering kusut berpikir ini itu tidak jelas juntrungannya, buntut-buntutnya bete sendiri karena memang tidak ada hasil akhir dari aktifitas itu. Mau ketak ketik panjang lebar, males. Enakan bengong, manyun, sambil dahi berkerut-kerut mikirin semua realitas hidup. Realitas hidup yang dekat saja dahulu, ya... tidak jauh-jauh dari kehidupan pribadi. Daripada mikirin carut marut keadaan negara, mikirin konsep kepemimpinan masa depan, apalagi sampai mikirin gimana nanti peta politik bangsa ini.
Kusut bin ruwet. Nah tapi itu ya, coba ada orang yang hidupnya enak nyaman tentram sejahtera senang selalu sampai bingung kenapa ga punya masalah. Apakah mungkin? Rasanya semua orang punya masalah dan kesusahannya masing-masing. Tapi celakanya, orang sangat senang membentuk persepsi yang positif kepada orang lain. Dan celakanya pula, orang lain hanya menangkap hal-hal yang menyenangkan saja dari kondisi orang lain tersebut. Kadang suka rancu kalau ada orang yang terlihat bahagia, selalu senang hidupnya, dikelilingi kemasyuran pula; apa iya semuanya seindah kelihatannya? Semoga memang demikian adanya, tapi ada bagian lain yang saya dan orang lain yang tidak tahu apa yang menjadi kesulitan dan masalah orang serba oke itu.
Sudah menjadi dorongan dasar manusia yang terprogram dalam otak mamalia bawaan orog, pasti ingin menghindari ketidak-nyamanan, kesulitan, kesengsaraan; dan sebaliknya ingin meningkatkan kenikmatan, kesenangan, kenyamanan, dan panjang kali lebar kali dalam semua yang namanya kemudahan. Mudah mencari jodoh, mudah mengumpulkan uang, mudah melakukan yang disenangi, nyaman bepergian dari satu tempat ke tempat lain tanpa susah-susah kepanasan atau kehujanan, dan semua yang memanjakan dirinya. Coba kalau dipikir, pasti anda pun demikian kan? Apa iya anda mau menjalani hidup yang susah? Susah mencari jodoh, susah mengumpulkan uang, susah melakukan hal-hal yang disenangi, mau bepergian repot kudu cape pegel jalan kaki sampai kaki anda kapalan, dan membuat hidup anda ruwet? Pastinya sudah dipastikan anda maunya dari enak semakin enak lagi, dari nyaman semakin nyaman lagi.
Secara logis, dorongan otak mamalia yang ada di alam pikiran manusia tersebut tidak dapat terelakan lagi. Menutup malam ini, ingin sekedar berpikir sendiri, dan mengajak juga anda melayangkan pikiran anda pada sederetan kisah dan kenangan anda, bagaimana metamorfosis kehidupan anda? Semoga dengan mengajak membuka kenangan masa lalu ini membuat kita senantiasa selalu berterima kasih dan bersyukur. Sudahkah anda bersyukur atas apa yang anda miliki dan ada pada diri anda saat ini?
Senin, 12 November 2012
Scribo, hasil bujukan Cogito di tengah malam
| Portrait of René Descartes, dubbed the "Father of Modern Philosophy", after Frans Hals c. 1648 (Photo credit: Wikipedia) |
Karena alasan inilah maka disini saya tidak akan membahas dan menelaah kata-kata tersebut. Om Rene ini memang memberikan inspirasi bagi saya untuk terus menulis. Lho, apa hubungannya ya? Ya, karena kata-kata dia itu saya sering berpikir dari hal sederhana yakni sesederhana deretan kata-kata lontaran Om Rene. Oleh karenanya, ketika saya memikirkan kata-katanya itu lha kok ternyata si pikiran ini mengajak temannya untuk turut serta menyukseskan perihal pikir berpikir ini. Temannya itu sebuah kata kerja yang dulu pernah dilakukan namun terbengkalai dan cenderung ditinggalkan lantaran aktifitas dan kegiatan kerjaan yang kerap kali dijadikan alasan. Namun lantaran masih terngiang bisikan Om Rene itu, guratan-guratan lobus frontalis ini tidak bisa berhenti berdenyut melontarkan gelombang-gelombang melalui sinaps yang dari jaman kuliah Faal bagian ini nyaris tidak mau menghapal lantaran banyak banget yang harus dihapal. Ah tapi itu tidak penting, yang penting sekarang karena sederetan kata Om Rene ini menghanyutkan alam jasmani untuk mengikuti alam pikiran yang selalu mengatakan "kapan kamu menulis lagi, kalau kamu kebanyakan berpikir dan cenderung banyak dipikirkan bisa-bisa kamu lupa dengan semua yang kamu pikirkan, lebih baik kamu tuliskan saja".
Rupa-rupanya si Cogito ini selalu menarik temannya di alam pikiran saya, temannya ini si Scribo memang hari ini berhasil mendorong saya untuk kembali menulis rangkaian kata-kata ini. Kalau om Rene terkenal dengan filosofis "Cogito Ergo Sum" di dalam hidupnya, lantas saya mulai terenyuh kalau-kalau "Scribo Ergo Sum" ini mulai bermekaran di alam bawah sadar yang paling dalam. Rasanya eksistensi diri semakin tebal dengan kata-kata "Saya menulis maka saya ada".
"Tetaplah berusaha mengikuti gejolak alam pikiran, teruslah tuliskan apa yang dipikirkan, dan dengan tulisan itu bisa diambil langkah evaluasi dan koreksi yang diperlukan"
Kamis, 29 Oktober 2009
Serenity Prayer
God, give us grace to accept with serenity
the things that cannot be changed,
courage to change the things
which should be changed,
and the wisdom to distinguish
the one from the other.
beberapa penggal kalimat ini sederhana tertulis, namun tidak sesederhana itu ketika dicoba diresapi. apa yang menjadi jawaban teman-teman semua ketika ditanya mengenai tujuan dan cita-cita yang hendak dicapai dalam 5 sampai 10 tahun mendatang? jawaban apa yang mungkin diberikan? dari pengalaman dan berdasarkan jawaban teman-teman yang ada selalu erat kaitannya dengan perubahan. bermacam-macam perubahan tentunya. dari yang belum punya apa-apa menjadi punya, dari yang amatir menjadi profesional, dari lajang menjadi berkeluarga, dari mempunyai handphone 1 menjadi 2, dari punya rumah 1 menjadi 2, dan mungkin dari punya istri 1 menjadi 2, dan seterusnya. mungkin juga terjadi perubahan dari adanya sesuatu menjadi tidak ada. dari mempunyai pekerjaan menjadi kehilangan pekerjaan, dari mempunyai pacar dan kemudian kehilangan, dari mempunyai perasaan menjadi dingin, dari bijaksana menjadi kehilangan ketajaman hati nurani. perubahan bagaikan 2 mata pisau yang harus dikelola dari 2 perspektif yang berbeda pula.
perubahan memang menjadi satu-satunya hal yang tidak mungkin tidak berubah. perubahan akan selalu terjadi, kapan pun, dimana pun, pada siapa pun. ritme kehidupan akan selalu mengalir, dinamis seiring berjalannya waktu, berjalan terus secara kontinu; dan di dalamnya pasti akan terdapat perubahan, sesederhana apapun, sekecil apapun. setiap mahluk pasti akan mengalami dan berada di dalam situasi perubahan. namun bagaimana kita menghadapi dan menjalaninya? apakah kita akan menanggapi jalannya perubahan, atau hanya berdiam membelakangi dan menjauhi perubahan? jika iya kita menanggapi perubahan, perubahan apa yang akan kita lakukan?
the things that cannot be changed,
courage to change the things
which should be changed,
and the wisdom to distinguish
the one from the other.
beberapa penggal kalimat ini sederhana tertulis, namun tidak sesederhana itu ketika dicoba diresapi. apa yang menjadi jawaban teman-teman semua ketika ditanya mengenai tujuan dan cita-cita yang hendak dicapai dalam 5 sampai 10 tahun mendatang? jawaban apa yang mungkin diberikan? dari pengalaman dan berdasarkan jawaban teman-teman yang ada selalu erat kaitannya dengan perubahan. bermacam-macam perubahan tentunya. dari yang belum punya apa-apa menjadi punya, dari yang amatir menjadi profesional, dari lajang menjadi berkeluarga, dari mempunyai handphone 1 menjadi 2, dari punya rumah 1 menjadi 2, dan mungkin dari punya istri 1 menjadi 2, dan seterusnya. mungkin juga terjadi perubahan dari adanya sesuatu menjadi tidak ada. dari mempunyai pekerjaan menjadi kehilangan pekerjaan, dari mempunyai pacar dan kemudian kehilangan, dari mempunyai perasaan menjadi dingin, dari bijaksana menjadi kehilangan ketajaman hati nurani. perubahan bagaikan 2 mata pisau yang harus dikelola dari 2 perspektif yang berbeda pula.
perubahan memang menjadi satu-satunya hal yang tidak mungkin tidak berubah. perubahan akan selalu terjadi, kapan pun, dimana pun, pada siapa pun. ritme kehidupan akan selalu mengalir, dinamis seiring berjalannya waktu, berjalan terus secara kontinu; dan di dalamnya pasti akan terdapat perubahan, sesederhana apapun, sekecil apapun. setiap mahluk pasti akan mengalami dan berada di dalam situasi perubahan. namun bagaimana kita menghadapi dan menjalaninya? apakah kita akan menanggapi jalannya perubahan, atau hanya berdiam membelakangi dan menjauhi perubahan? jika iya kita menanggapi perubahan, perubahan apa yang akan kita lakukan?
Rabu, 28 Oktober 2009
outing tengah minggu
menghirup segarnya udara daerah puncak menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat jakarta yang hendak melepas penat dari hiruk pikuk jakarta. berbondong-bondong lah mereka berangkat dari jakarta hingga mencapai tujuannya di sebuah villa berudara sejuk. kemacetan lalu lintas sepertinya tidak menghalangi niat mereka untuk melepas lelah setelah seminggu penuh bergulat dengan tuntutan pekerjaan. antrian kendaraan yang menyemut menjadi pemandangan ketika akhir pekan. jalur pergi pulang seakan kurang memadai dan menampung banyaknya kendaraan yang melintas diatasnya. tampaknya tak hanya di akhir pekan saja, daya tarik kawasan puncak memang mampu menarik masyarakat ibu kota untuk beraktifitas pada hari kerja. bedanya hanya pada tingkat kemacetan lalu lintasnya saja, sisanya kawasan puncak masih menyimpan beragam hal menarik yang mampu mengundang masyarakat ibu kota untuk melakukan aktifitasnya.
hari ini tampaknya menjadi hari menyenangkan setelah melakukan serangkaian aktifitas sehari penuh, melakukan berbagai kegiatan yang banyak menguras tenaga dan pikiran. kurang lebih perjalanan 90 menit, akhirnya kami sampai juga di tempat berkegiatan luar ruang. aktifitas ini akan berlangsung keesokan harinya dimana kami hari ini akan menyiapkan berbagai tantangan dan juga sarana pendukungnya. materi demi materi kami diskusikan dengan panjang lebar. walau hari sudah larut, kami tetap membahasnya dan mempersiapkannya dengan matang. apa yang terjadi tampaknya mampu menjelaskan bahwa sejuknya udara di puncak belum tentu mampu menyejukkan hati orang-orang yang ada di tempat tersebut. terlepas dari sejuk atau tidaknya hati seseorang, ada benarnya bila diingat bahwa sepanas apapun udara diluar sana akan menjadi sejuk bila hati tetap sejuk.
ada kalanya hari ini rupanya menjadi hari yang mengingatkan kembali kepada semangat dan kesejukan hati para pendahulu kita, para pemuda yang mempunyai semangat membara. di tengah hingar bingar mesiu dan amunisi melawan penjajah, mereka tetap sejuk hatinya membangun semangat persatuan demi terwujudnya cita-cita yang lebih luas, cita-cita yang lebih luhur dan mulia, demi nusa dan bangsa. teringat akan momen bersejarah itu, dan juga momen indah dimana kaum muda didorong untuk lebih peduli terhadap keadaan dan situasi yang terjadi saat ini, banyak hal yang mampu dilakukan saat ini untuk memulai perubahan menjadi lebih baik. bangsa ini mampu menjadi lebih baik, semakin lebih baik lagi, semakin berkembang, dan semakin produktif. dengan semangat kaum muda, perubahan dimulai dari yang sederhana, perubahan dapat dimulai dari diri sendiri. adakalanya perubahan memerlukan kesadaran yang ikhlas, kesadaran yang didukung kesejukan hati untuk dapat menyadari dan menerima perubahan serta mau untuk berubah.
salam sejuk...semoga hati selalu sejuk, menyejukkan hari-hari yang indah, memberikan ketentraman bagi orang lain yang ada di sekitar kita.
hari ini tampaknya menjadi hari menyenangkan setelah melakukan serangkaian aktifitas sehari penuh, melakukan berbagai kegiatan yang banyak menguras tenaga dan pikiran. kurang lebih perjalanan 90 menit, akhirnya kami sampai juga di tempat berkegiatan luar ruang. aktifitas ini akan berlangsung keesokan harinya dimana kami hari ini akan menyiapkan berbagai tantangan dan juga sarana pendukungnya. materi demi materi kami diskusikan dengan panjang lebar. walau hari sudah larut, kami tetap membahasnya dan mempersiapkannya dengan matang. apa yang terjadi tampaknya mampu menjelaskan bahwa sejuknya udara di puncak belum tentu mampu menyejukkan hati orang-orang yang ada di tempat tersebut. terlepas dari sejuk atau tidaknya hati seseorang, ada benarnya bila diingat bahwa sepanas apapun udara diluar sana akan menjadi sejuk bila hati tetap sejuk.
ada kalanya hari ini rupanya menjadi hari yang mengingatkan kembali kepada semangat dan kesejukan hati para pendahulu kita, para pemuda yang mempunyai semangat membara. di tengah hingar bingar mesiu dan amunisi melawan penjajah, mereka tetap sejuk hatinya membangun semangat persatuan demi terwujudnya cita-cita yang lebih luas, cita-cita yang lebih luhur dan mulia, demi nusa dan bangsa. teringat akan momen bersejarah itu, dan juga momen indah dimana kaum muda didorong untuk lebih peduli terhadap keadaan dan situasi yang terjadi saat ini, banyak hal yang mampu dilakukan saat ini untuk memulai perubahan menjadi lebih baik. bangsa ini mampu menjadi lebih baik, semakin lebih baik lagi, semakin berkembang, dan semakin produktif. dengan semangat kaum muda, perubahan dimulai dari yang sederhana, perubahan dapat dimulai dari diri sendiri. adakalanya perubahan memerlukan kesadaran yang ikhlas, kesadaran yang didukung kesejukan hati untuk dapat menyadari dan menerima perubahan serta mau untuk berubah.
salam sejuk...semoga hati selalu sejuk, menyejukkan hari-hari yang indah, memberikan ketentraman bagi orang lain yang ada di sekitar kita.
Langganan:
Postingan (Atom)