Sabtu, 19 April 2014

(anak) bawel...

Masih terbersit peristiwa tadi malam saat menghadiri Misa Malam Paskah di sebuah Gereja di Bogor. Saya dan keluarga datang dengan maksud mengikuti perayaan dengan tenang, hikmat, dan khusuk. Awalnya sebelum perayaan dimulai, banyak anak-anak kecil berceloteh di sekitar tempat kami duduk. Saya menoleh mencoba melihat apakah ada orangtuanya di sekitarnya. Ternyata ada. Tenang sudah hati saya, dengan asumsi pasting nanti anak tersebut ditenangkan oleh orangtuanya. Jadi saya mencoba memaklumi situasi tersebut.

Pengumuman tanda perayaan akan segera dimulai sudah terdengar. Suasana gelap menjadi ritual pembuka pun semakin terasa. Kalimat pembuka sudah dikumandangkan, terdengar sang pemimpin perayaan mengajak setiap umat untuk mengikuti kalimat demi kalimat, dan doa demi doa. Konsentrasi saya masih pecah dengan celotehan anak kecil yang ada tidak jauh dari tempat kami duduk. Saya pikir mungkin sebentar lagi anak itu bisa terdiam.

Umur 2 atau 3 tahun mungkin. Celotehan dan becandaan anak itu akrab dengan sang ayah. Entah kenapa si ayah terlihat menanggapi dan menimpali pertanyaan polos sang anak. Menurut hemat saya, semua orangtua akan merepons positif interaksi yang terjadi dengan buah hatinya. Alhasil, sepanjang perayaan anak tersebut bertambah intens pola interaksinya dengan sang ayah. Bukan hanya sekedar menjawab beberapa pertanyaan Kecil dan sederhana, tapi terjadi juga becandaan yang menyebabkan si anak melepaskan tawanya. Kecil, polos, agak melengking, dan  seperti menanggapi respons positif dari sang ayah.

Senang melihat interaksi tersebut, tapi kok ya saya merasa ada yang salah dengan situasi ini. Dalam tataran perkembangan anak, penanaman nilai benar dan salah, serta menerapkan sedikit boleh atau tidak sudah bisa dilakukan oleh orangtua sebagai figur terdekatnya. Dalam situasi yang saya alami tadi, peran orangtua untuk mengarahkan anaknya until lebih tenang, kurang dilakukan. Saya mulai berpikir, ada keengganan dari sang orangtua untuk menyadarkan anaknya. Celakanya, entah itu suami atau istri dari pasangan orangtua itu cenderung cuek anaknya bawel. Saya rasa anak itu tidak salah. Lha wong umur segitu lagi doyan-doyannya ngomong. Baru juga lidah dan mulut bisa ngoceh ngalor ngidul bertanya macam-macam, dengan segudang pertanyaan dasar yang diucapkan intonasi khas anak balita.

Pertanyaan menggelitik di kepala, sebenarnya orangtuanya salah atau tidak? Menurut saya kurang tepat karena orangtua tersebut mengiyakan anaknya bawel sehingga mengakibatkan orang lain termasuk saya merasa terganggu. Apa tanggapan anda bila anda menghadapi situasi ini?

Kamis, 17 April 2014

Dilema Waktu

Hari masih sore, 20 menit saja baru lewat dari pukul lima sore. Riuh rendah obrolan para penghuni kantor yang akan beranjak pulang membuat hangat suasana dingin akibat cuaca yang sedang hujan ditambah lagi pendingin udara di dalam ruangan. Raut wajah bersemangat hendak cepat-cepat pulang terlihat sekali. Dimanapun ada libur dalam hari kerja pasti disambut sumringah. Apalagi sekarang akan menambah panjang liburan akhir pekan, sehingga terlihat sebelum pukul lima pun sudah beres-beres. Begitu pukul lima teng, semua sudah beranjak dari tempat duduk masing-masing; ada yang langsung pulang, banyak yang masih bercengkrama sekedar basa-basi sambil turun menuju parkiran.

Sepertinya tinggal saya dan seorang petugas kebersihan yang masih sibuk sekarang. Saya pura-pura sibuk dengan komputer jinjing saya, dan bapak diluar sana sibuk dengan puluhan gelas yang sedang dicucinya. Tampaknya semua sudah berhamburan ingin segera tiba di rumah masing-masing, atau punya agenda jalan-jalan lainnya. Banyak yang memaknai hari ini hingga hari minggu besok sebagai kesempatan untuk rehat sejenak dari kesibukan sehari-hari. Sebagian teman-teman yang beragama Nasrani pastinya tidak sependapat dengan hal ini. Gimana bisa rehat sejenak, setiap hari akan ada ibadah di Gereja. Rangkaian Pekan Suci yang dimulai dari hari Minggu Palma kemarin, akan memasuki puncaknya pada hari Minggu Paskah. Sebelum sampai Minggu Paskah, ada 3 hari penting yang menjadi misteri iman; yakni : Kamis Putih, Jum'at Agung, dan Sabtu Tirakatan Kebangkitan Tuhan. Tiga hari tersebut menjadi perayaan penting dalam tradisi dan perayaan keimanan, sehingga bagi pemeluk Nasrani menjadikan hari-hari tersebut sebagai suatu kesempatan untuk berlibur rasanya kurang bijak.

Terlepas dari bagimana saya, anda, dan kita menyikapi tiga hari ke depan, esensinya lebih kearah apa yang bisa saya lakukan saat ini. Memanfaatkan waktu secara berkualitas menjadi dilema bagi orang-orang penduduk kota Jakarta. Berapa banyak waktu yang digunakan secara berkualitas dengan orang-orang yang terdekat di rumah? Perjalanan pergi pulang ke tempat kerja sepertinya lebih panjang dibandingkan waktu yang digunakan untuk bersama-sama dengan keluarga. Langkanya waktu kosong ini membuat saya melihat orang-orang begitu terobsesi dengan yang namanya hari libur. Begitu ada kalender untuk tahun berikutnya, selalu yang dicari adalah tanggal-tanggal merah yang artinya bolong alias libur alias kosong dari aktifitas dan rutinitas kerjaan. Celakanya, sudah melihat dan membuat rencana panjang kali lebar kali tinggi untuk mengisi liburan tersebut, ternyata esensi dari memanfaat waktu secara berkualitas pada hari libur tersebut sering kali malah terabaikan.

Apa yang akan anda lakukan dalam tiga hari kedepan? Sudahkah anda menyediakan waktu yang berkualitas dengan keluarga anda? Sudahkah anda menyediakan waktu yang berkualitas untuk membangun relasi dengan Sang Pencipta?

Senin, 14 April 2014

(masih) mamalia

Setelah hampir 2 tahun tidak pernah menengok barang sebentar pun ke blog ini, akhirnya malam ini entah mengapa ada dorongan untuk kembali bernostalgia. Sekedar untuk membaca 3 hasil iseng yang biasanya memang terjadi begitu saja, celakanya malam ini akan terjadi buah keisengan yang lainnya. Tidak pernah konsisten memang untuk selalu menuangkan sederetan peristiwa yang terjadi sehari-hari, dan kok ya malam ini baru "jreng" dan langsung merangkaikan kata-kata ini.

Lebih sering kusut berpikir ini itu tidak jelas juntrungannya, buntut-buntutnya bete sendiri karena memang tidak ada hasil akhir dari aktifitas itu. Mau ketak ketik panjang lebar, males. Enakan bengong, manyun, sambil dahi berkerut-kerut mikirin semua realitas hidup. Realitas hidup yang dekat saja dahulu, ya... tidak jauh-jauh dari kehidupan pribadi. Daripada mikirin carut marut keadaan negara, mikirin konsep kepemimpinan masa depan, apalagi sampai mikirin gimana nanti peta politik bangsa ini.

Kusut bin ruwet. Nah tapi itu ya, coba ada orang yang hidupnya enak nyaman tentram sejahtera senang selalu sampai bingung kenapa ga punya masalah. Apakah mungkin? Rasanya semua orang punya masalah dan kesusahannya masing-masing. Tapi celakanya, orang sangat senang membentuk persepsi yang positif kepada orang lain. Dan celakanya pula, orang lain hanya menangkap hal-hal yang menyenangkan saja dari kondisi orang lain tersebut. Kadang suka rancu kalau ada orang yang terlihat bahagia, selalu senang hidupnya, dikelilingi kemasyuran pula; apa iya semuanya seindah kelihatannya? Semoga memang demikian adanya, tapi ada bagian lain yang saya dan orang lain yang tidak tahu apa yang menjadi kesulitan dan masalah orang serba oke itu.

Sudah menjadi dorongan dasar manusia yang terprogram dalam otak mamalia bawaan orog, pasti ingin menghindari ketidak-nyamanan, kesulitan, kesengsaraan; dan sebaliknya ingin meningkatkan kenikmatan, kesenangan, kenyamanan, dan panjang kali lebar kali dalam semua yang namanya kemudahan. Mudah mencari jodoh, mudah mengumpulkan uang, mudah melakukan yang disenangi, nyaman bepergian dari satu tempat ke tempat lain tanpa susah-susah kepanasan atau kehujanan, dan semua yang memanjakan dirinya. Coba kalau dipikir, pasti anda pun demikian kan? Apa iya anda mau menjalani hidup yang susah? Susah mencari jodoh, susah mengumpulkan uang, susah melakukan hal-hal yang disenangi, mau bepergian repot kudu cape pegel jalan kaki sampai kaki anda kapalan, dan membuat hidup anda ruwet? Pastinya sudah dipastikan anda maunya dari enak semakin enak lagi, dari nyaman semakin nyaman lagi.

Secara logis, dorongan otak mamalia yang ada di alam pikiran manusia tersebut tidak dapat terelakan lagi. Menutup malam ini, ingin sekedar berpikir sendiri, dan mengajak juga anda melayangkan pikiran anda pada sederetan kisah dan kenangan anda, bagaimana metamorfosis kehidupan anda? Semoga dengan mengajak membuka kenangan masa lalu ini membuat kita senantiasa selalu berterima kasih dan bersyukur. Sudahkah anda bersyukur atas apa yang anda miliki dan ada pada diri anda saat ini?